Laksana Intan Terpendam

Perjuangan dan cita-cita kemerdekaan Nyi Hajar Dewantara bukanlah barang cetakan.Jiwa dan cita-cita itu merupakan suatu yang tumbuh secara wajar di dalam pribadinya,sesuai dengan zaman yang melahirkannya ,dengan ajaran-ajaran yang diterima, dan sesuai pula dengan kemampuan pribadinya dalam menyerap dan memanfaatkan segala pengalaman hidupnya. Untuk lebih dalam mengenal jiwa Nyi Hajar Dewantara ,bahkan untuk dapat mengertia lasan pokok :mengapa putri bangsawan itu memilih medan perjuangan kemerdekaan daripada istana yang megah dan mewah,perlu kiranya kita manelusuri peristiwa-peristiwa sejarah baik sebelum maupun sesudah ia dilahirkan sebagai putri ke enam dari Kanjeng Pangeran Haryo Sastroningrat.
Namun sejauh manakah Nyi Hajar Dewatara telah memberikan jasanyakepada perjuangan kemerdekaan bangsa indonesia? Pernyataan ini sudah tentu perlu di jawablebih dahulu sebelum kita memasuki lembaran – lembaran berikutnya tentang riwayat hidup dan riwayat perjuangan Wanita Utama, Perintis Perjuangan Kebagsaan dan Gerakan Kemerdekaan Bangsa Indonesia, Nyi Hajar Dewantara.
Bertolak dari penilian Pahlawan Nasional Ki Hajar Dewantara tentang istrinya yang setia dan terkasih itu, tentunya andil Nyi Hajar kepada perjuangan kemerdekaan bangsa kita ini cukuplah besar,khususnya dan terutama di dalam mensukseskan perjuangan suaminya sebagai pemimpin bangsa yang diakui kebesarannya baik oleh kawan maupun lawan.
Ki Hajar Dewantara ialah salah seorang pemimpin bangsa Indonesia yang oleh Van der Plas ( pemerintah kolonial Belanda ) dan oleh H. Shimitsu ( Fasis Jepang ) diakui sebagai lawannya yang sangat berbahaya tapi sekaligus diakui sebagai guru politik mereka.
Ir. Soekarno yang pada zaman sesudah Ki Hajar Dewantara mengundurkan diri dari gelanggang politik selau di kagumi dan didorong oleh Ki Hajar, adalah seorang besar yang mengagumi kebesaran Ki Hajar Dewantara. Ketika tanggal 19 Desember 1956 Ki Hajar Dewantara menerima gelar Doctor honoris Causa dari Universitas Gajah Mada di Yogjakarta, di dalam kata sambutannya selaku Presiden Republik Indonesia, Ir. Soekarno berkata :”Saya persoonlijk saudara – saudara, merasa berbahagia, tepat pada waktu itu Saya masih muda, maguru pada Ki Hajar Dewantara. Saya termasuk pemuda yang berbahagia, dapt maguru pad orang – orang Indonesia yang besar seperti Ki Hajar.”
Kini sesudah orang mengagumi hari kemudian bahkan hari akhir yang gemilang dari hidup dan perjuangan Ki Hajar Dewantara maka apakah kata Ki Hjar sendiri tentang hari kemudiannya yang sukses itu?
“Aku tak tahu apa yang akan tejadi dengan hari kemudian apabila tiada Nyi Hajar,”demikian kata Ki Hajar Dewantara. Penilaian ini diucapkan ketika Ki Hajar menerima sebuah padepokan ( tempat tinggal ) persembahan keluarga besar Taman Siswa.
Jauh sebelum penilaian ini diucapkan, penulis pun pernah mencatat satu pengakuan yang berterus terang dari Ki Hjar Dewantara tentang istrinya, bahwa:”tanpa Nyi Hajar yang berjiwa Nyi Hajar Dewantara itu, mungkin saya sudah meninggalkan Taman Siswa sebelum sempat menjadi besar, karena saya bertekad untuk terjun kembali ke dunia kepartaian, karena saya meras sangat cemas denag terjadinya perpecahan – perpecahan di dalam barisan perjuangan – perjuangan kemerdekaan pada masa lalu.”( yang di maksud Ki Hajar ialah sekitar tahun 1925 sampai 1930, penulis ).
Apakah pada waktu itu Nyi Hajar melarang suaminya terjun kembali kegelanggang kepartaian? Menurut Ki Hajar sendiri: Tidak! Namun dengan kata – kata yang halus sesuai kepribadiannya Nyi Hajar berkata:
“Prajurit – prajurit di garis depan bisa saja gugur satu demi satu sebagai pahlawan, medan perjuangan bisa pula berantakan, akan tetapi selama Taman Siswa sebagai sumber aji candra birawa masih tegak, maka prajurit – prajurit pejuang kemerdekaan akan terus di lahirkan, mati satu tumbuh seribu, dan fron depan akan tersusun kembali. Sialhkan kalau Ki Hajar mau terjun kembali ke gelanggang kepartaian, tapi saya tidak akn ikut. Saya akan tetap tinggal di sini dan bekerja keras untuk membesarkan Taman Siswa.”
Berkat kata – kata Nyi Hajar Dewantara itulah maka Ki Hjar tetap tinggal di Taman Siswa. Dikembangkannya Taman Siswa, di konsolidasikannya sesuai dengan rencana” Satu windu pertama “ (rencana delapan tahun) yang sudah disepakati oleh para pendiri Taman Siswa.
Berkat keteguhan Nyi Hsjar Dewantara dalam menjaga langkah – langkah perjuangan suaminya,maka dalam waktu yang telah ditetapkan sesuai dengan rencana, Taman Siswa sudah menjelma menjadi satu lembaga dan sekaligus satu gerakan pendidikan dan gerakan kebudayaan yang kokoh bagaikan benteng ideologi bagi gerakan kebangsaan dan gerakan saat itu. Apa yang menjadi keyakinan Nyi Hajar Dewantara dan pernah di ucapkan kepda suaminya ternyata benar. Dengan tetap berjuang di Taman Siswa Ki Hajar Dewantara tetap memiliki hubungan kerja politik denga perjuangan – perjuangan di luar Taman Siswa.
Ketika tahun 1922 terjadi pemecatan masal atau buruh penggadain akibat pemogokan umum yang di pimpin oleh sarekat islam, maka Ki Hajar dan Nyi Hajar sendiri turun tangan dalam menampung korban – korban perjuangan di lingkungan Taman Siswa yang masih muda usia, dengan cara mendirikan koperasi – koperasi rakyat yang bergerak di bidang binatu, pangkas rambut, bengkel sepeda dan lain sebagainya.
Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa pada zaman itu selalu menjadi tempat berkonsultasi dan berkomunikasi bagi pejuang – pejuang politik, para cendekiawan dan seniman yang berjuang melawan kolonialisme dalam garis non kopeeratif. Ir Soekarno dan pemimpin – pemimpin pergerakan kebangsaan lainnya, pemimpin-pemimpin gerakan kaum wanita seperti ibu Kartowiyono, ibu Dr.sukonto bukanlah orang - orang asing bagi Taman Siswa,dan tidak merasa asing pula berda di Taman Siswa. Demikianlah suasana pada zaman lahirnya” Sumpah Pemuda “ pada zaman kebangkitan PNI dan pada zaman kebangkitan gerakan wanita Indonesia. Bahkan dari sini pulalah pada awal mulanya, ibu Kartowiyono, ibu Dr.Sukonto dan Nyi Hajar Dewantara memadukan idenya menyelenggarakan kongres perempuan Indonesia yang pertama, untuk memeprsatukan dan mengalahkan perjuanagn kaum wanita.
Begitu besar arti dan nilai kata – kata sederhana Nyi Hajar Dewantara tersebut di atas, karena dari sinilah ternyata hari depan Ki Hajar Dewantara denga Taman Siswa ditentukan arahnya. Sukses perjuangan Ki Hajar Dewantara dengan Taman Siswa sesungguhnya merupakan bagian sukses perjuangan bangsa Indonesia. Di situlah secara diam – diam tanpa gembor – gembor, Nyi Hajar Dewantara telah minyisipkan andilnya.
Selain penilaian Ki Hajar sendiri terhadap jasa – jasa istrinya, kiranya pendapat – pendapat tokoh lainnya ada baiknya juga kita dengar.
Dalam kata sambutan atas pemberian gelar Doctor Honoris Causa dalam ilmu kebudayaan kepda Ki Hajar Dewantara oleh Universitas Gajah Mada di Yogyakarata pada tanggal 19 desember 1956, Ki Sundoro pada akhir sambutannya berkata:” kata – kata saya ini belumlah lengkap rasanya, kalu dalam membicarakan Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa, saya belum menyebutkan seorang tokoh yang ulet dan sadar menghantar Ki Hajar dalam suka dan duka, pahit dan manis kesegala langkah perjuangan sampai sekarang: Nyi Hajar Dewantara, itulah tokoh yang saya maksudkan.”
Profesor Dr. Priyono, dalam penilaiannya tentang partner ship Ki Hajar dan Nyi Hajar baik sebagai suami istri maupun sebagai kawan seperjuangan menegaskan:” menurut saudara Hendro Martono, seorang pemimpin gerakan kaum buruh Indonesia, Ki Hajar Dewantara adalah Krisna Penjelmaan Wisnu bagi perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Bagi saya Ki Hajar bukanlah hanya Wisnu Krisna, tetapi Ki Hajar adalah Wisnu Rama,dan sebagai Shindatanya adalah Nyi Hajar Dewantara.” ( Diucapkan sebagai inspektur upacara dalm upacara pemakaman jenasah Ki Hajar Dewantara di tahun 1959 ).
Mrinalini Shara Bhai, seorang seniwati besar India, ketika untuk kedua kalinya berkunjung ke Indonesia di tahun 1956 menyatakan kesannya kepada Ki Sarino MangunPtranoto, waktu itu Mentri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan:” Saya mersa berbahagia bahwa dalam hidup saya, saya pernah menjadi murid Nyi Hajar Dewantara dan Ki Hajar Dewantara saya juga pernah merasakan hidup berbahagia di dalam asrama Taman Siswa.”
Penilaian ornag asing lainya yang perlu di dengar juga adalah dari Chrislibeau, karena penilaian ini menyangkut pribadi Nyi Hajar Dewantara. Namun sebelumnya perlu diketahui, bahwa Chrislibeau adalah seorang pelukis lytograf Belanda kesayangan keluarga Ratu Willhelmina. Chrislibeau pernah melukis Nyi Hajar Dewantara, dan dari sinilah maka ia mengenal pribadi Sutartinah. Menurut dia Nyi Hajar bukanlah seorang pejuang politik seperti suaminya, namun Nyi Hajar adalah seorang puteri, seorang aristokrat sejati. Chrislebeau menyimpulkan pribadi Nyi Hajar kedalam satu kata saja:” Dia adalah luar biasa.”
Semasa hidupnya Nyi Hajar sendiri pernah berkata kepada putra – putrinya:” sebenarnya aku tidak berbakat politik. Akan tetapi bakat itu ku tinggalkan, karena panggilan Tuhan telah mentakdirkan, bahwa aku harus mendampingi perjuangan ki Hajar Dewantara.” Dalam hal ini kiranya diapun telah berhasil menunaikan panggilan Maha Penciptanya, sampai pada akhir hayatnya.
Nyi Hajar Dewantara ialah seorang pendiam,rendah hati dan lebih senang berdiri di belakang. Hanya seakali – kali dia bicara. Namun yang sekali itu biasanya sesuatu yang sangat berharga. Dia tahu benar kapan harus tundukmengikuti gerak langkah suaminya sebagai prajurit, dan kapan dia harus bicara tegas kepada suaminya. Kata – kata Nyi Hajar kepada Ki Hajar untuk mempertahankan kepemimpinannya di Taman Siswa, benar – benar merupakan cahaya dari suatu pribadi yang besar laksana intan tetpendam. Akan tetapi sudah barang tentu semuanya itu terjadi karena kehendak Allah jua.

0 komentar:

Posting Komentar

l4m n4l cmu4nY........
l0w Pd.......
m4mp!r jgn lp4 t!nggal!n kr1t!K 4t4u $4r4n f0R m3...

 
Designed by: Newwpthemes.com | Bloggerized by Dhampire